GAJI PERMANEN PERBULAN

GAJI PERMANEN PERBULAN
Cukup Dengan Mengisikan NAMA dan EMAIL ANDA

Minum Darah Ular di Mangga Besar !



Ular-ular hidup ini ditempatkan dikandang yang terletak di samping warung Cobra 34. Berbagai jenis ular yang dijual, antara lain, ular kobra, ular pasir, ular kayu dan King Cobra

Keingintahuan terhadap rasa sate ular, membawa saya ke daerah Mangga Besar, Jakarta Barat, akhir pekan lalu. Ternyata, tak susah menemukannya. Baru beberapa meter berjalan ke arah Lokasari, saya dan dua orang teman sudah menemukan tenda-tenda yang meracik menu binatang melata ini.

Wah, para penjual itu pun, menyuguhkan ular-ular segar dan masih hidup yang ditempatkan khusus di kandang-kandang segi empat.

Dari kejauhan, saya sudah melihat geliat tubuh ular-ular itu, seakan menari menyambut malam. Perasaan saya biasa saja ketika itu, tetapi, ketika jarak semakin dekat, ada yang bergejolak di dalam perut saya, mules rasanya, seakan mereka memandangi saya dan mendesis menjulurkan lidah.

Jujur, saya memang ngeri dengan binatang berbisa tersebut. Untunglah, saya tidak sendirian. Dua orang teman saya, juga langsung merasa 'lemas' sesaat melihat lenggak-lenggok ular-ular ini dari dekat.

Namun, kami tak langsung singgah di warung pertama tadi. Kami pun, meneruskan penelusuran, sembari memilih warung mana yang akan kami singgahi.

Setelah melewati beberapa penjaja ular, saya memutuskan menyantap ular di Cobra 34, sebab, ularnya lebih beragam dibandingkan warung-warung sebelumnya. Selain kobra, ada juga ular pasir (wuih..gedhe banget), ular belang, ular kayu dan King Cobra.

Di samping itu, ada juga daging biawak, monyet dan tupai. Kami memesan seporsi sate ular, sate biawak dan sop biawak. Mmm...minum darah gak ya? Well, saya masih ragu-ragu, antara berani dan tidak. Pikirkan nanti saja lah...

Jika hanya ingin menikmati dagingnya, para penjaja ular ini sudah menyiapkan daging segar dari rumah. Sementara, ular-ular yang masih hidup, biasanya di peruntukkan khusus untuk mereka yang ingin meminum darah segar. Penjual, langsung 'membunuh' ular dan menyajikan darahnya untuk pemesan.

Menurut si penjual, pak Uwi, daging ular dapat membantu penyembuhan rematik, asma dan asam urat. Kebanyakan pengunjung, memang menyantap ular untuk obat penyakit mereka.

Beberapa, memilih membeli daging mentahnya untuk dimasak sendiri di rumah. Biasanya, dibikin sop.

"Kalau buat obat, sebaiknya seminggu dua kali atau seminggu sekali mengkonsumsi daging ular. Kebanyakan yang datang kesini memang mencari daging untuk obat, terutama asma," terang Uwi yang sudah membuka warung sejak tahun 1992.

Sedangkan, darah ular segar, lengkap dengan sumsumnya, dipercaya untuk menambah stamina dan gairah terutama bagi kaum pria. Khusus untuk pria, Uwi akan menambahkan torpedo ular di dalam ramuan minuman darah ularnya. Lalu, khasiat sumsum adalah menghilangkan sakit pinggang dan pegal-pegal.

"Buat pria yang lemah syahwat, meminum darah ular secara rutin bisa meningkatkan gairah. Selain darah ular, bisa juga otak monyet segar untuk obat impotensi," imbuhnya.

Sate Ular, Sate Biawak dan Sop Biawak

Akhirnya sate ular cobra, sate biawak dan sop biawak hadir di depan kami. Bumbu satenya, sama dengan bumbu sate pada umumnya, ada dua pilihan, bumbu kecap atau bumbu kacang. Saya pilih kedua-duanya.

Pertama, saya menyantap sate cobra. Waduh, ternyata cukup dagingnya cukup alot, sehingga saya harus sedikit bekerja keras menyantapnya. Rasanya mirip daging sapi tetapi lebih plain (tawar).

Lalu, saya mencoba sate biawak. Hmm...daging binatang yang satu ini ternyata lebih oke dari ular. Biawak mempunyai struktur serat yang lebih halus ketimbang ular, jadi lebih empuk dan lebih gurih. Not bad.

Sop biawaknya? Kuat dengan aroma rempah, seperti sop obat dari China. Dugaan saya tidak salah, karena di dalam kuahnya yang bening, terdapat berbagai campuran rempah-rempah China yang didominasi oleh jahe.

"Bumbunya rahasia dong. Resepnya memang didapat dari orang China, tempat kakak saya bekerja dulu," terang Uwi.

Ketika kami asyik menikmati daging-daging ini, ada sepasang pengunjung yang datang dan memesan darah ular. Wah, ada kesempatan untuk melihat proses pembuatannya. Awalnya, saya kira yang memesan adalah si lelaki, tetapi salah, karena ramuan ini akan diminum oleh si wanita yang berumur sekitar 20-an.

Ramuan yang dipilih adalah menu komplit yang terdiri tiga jenis ular, belang, kayu dan kobra. Lebih joss, kata Uwi. Karena masing-masing mempunyai keunggulan tersendiri dala darahnya. Kobra untuk rematik, pasir untuk asam urat. Tentu saja, penambah stamina.

Paket ini berharga Rp 90.000, dengan atau tanpa daging. Daging-dagingnya, bisa langsung disate di tempat atau dibawa pulang. Kalau hanya mau darahnya saja, ya, beruntunglah si penjual, karena bisa dibuat sate untuk pelanggan lain. Kalau hanya satu jenis ular, dihargai Rp 50.000.

Uwi pun segera melakukan aksinya. Ular diambil dari kandang, kepalanya dijepit dan, duh...langsung dipotong, tepat di ujung kepala. Dengan gesit, darah ular yang menetes segar, dikucurkan dalam gelas mungil. Nggak tega juga rasanya, melihat badan ular itu masih menggeliat beberapa saat, sebelum akhirnya diam, tak bernyawa.

Sesudah itu, ia mengambil sumsum dari tubuh ular secara perlahan dan dimasukkan dalam gelas yang sama. Karena pemesan adalah perempuan, Uwi tidak menyertakan torpedo.

Setelah itu, ular segera dipisahkan dari kulitnya, untuk dibuat sate. Darah dan sumsum lalu dicampur arak dan madu, untuk menghilangkan darah dari rasa anyir. "Rasanya, manis kok, lebih kuat rasa araknya, tidak terasa minum darah," jelasnya.

Ramuan tiga darah ular pun siap diminum. Kami penasaran menunggu reaksi si perempuan pemesan tadi, karena, ia juga baru pertama kali meminum darah segar. Ternyata, ia dapat meminum dengan sukses. "Seperti arak," katanya singkat.

Finally....Darah Ular

Walhasil, melihat pengunjung perempuan di sebelah kami mampu menghabiskan darah, teman saya lalu 'menantang' saya meminum darah juga.

"Udah sampai sini, sayang khan kalau nggak coba minum darahnya. Cewek itu aja bisa," ujarnya. Hmm....dengan sedikit was-was, akhirnya saya pesan juga darah segar ular kobra. Tetapi, cukup yang satu jenis ular saja. Pak Uwi, menawari darah dicampur dengan Fanta, jika tidak mau dicampur arak.

"Mau dicampur Fanta saja mbak, biar rasanya lebih enak, kaya rasa Fanta. Rasa darah akan larut dalam Fanta kok," terangnya. Tapi, setelah dipikir-pikir, tanggung juga. Saya putuskan memakai campuran arak dan madu.

Ketika darah sudah tersaji, wuihh...saya jadi deg-deg-an. Takut muntah. But I have to try this. Setelah menghela napas panjang, saya pun meminum ramuan darah segar ini, dan...wow...I made it...saya berhasil meminumnya dengan dua kali tegukan.

Manis, kental dan rasa arak....rasa darahnya masih tersisa sedikit di tenggorokan saya!
Angelina Maria Donna ( Kompas.com )